Tak Hanya Curah Hujan Seperti Kata Pemerintah, Banjir di Kalimantan Selatan Juga Dipicu Oleh Alih Fungsi Lahan

Sungai Barito di Kalimantan membludak pada Jumat (15/1) sebab tidak mampu memuat curahan hujan tinggi semenjak 10 hari kemarin. Mengakibatkan, sekitar lebih dari 24 ribu rumah di 10 kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan (Kalsel) tergenang banjir.

Tidak sedikit warga Indonesia yang terkejut dengan musibah ini. Masalahnya kecuali dikenali dengan panggilan Pulau Seribu Sungai, Kalimantan lama dikenal juga sebagai paru-paru dunia sebab mempunyai. Arimba yang luasnya capai 40,8 juta hektar.

Presiden Jokowi dalam peluangnya mengevaluasi. Aposisi banjir pada Senin (18/1), menjelaskan ini adalah banjir paling besar yang menerpa Kalsel dalam 50 tahun akhir. Dia juga sampaikan curahan hujan yang tinggi sekali sebagai. Abiang keladi musibah, yang sampai waktu itu sudah memaksakan 100 ribu masyarakat pindah dan menyebabkan 16 orang masyarakat wafat.

“Curahan hujan yang tinggi sekali nyaris 10 hari beruntun hingga daya. Atampung Sungai Barito yang umumnya memuat 230 juta mtr. kubik air, saat ini masuk sejumlah 2,1 miliar kubik air,” ucapnya seperti diambil dari Republika.

Apa yang dikatakan Jokowi memang tidak salah. Kenyataannya curahan hujan memang tinggi dan Sungai Barito memang membludak. Tetapi, hal itu bukan salah satu pemicu. Sarana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Nasional memandang pengakuan. AJokowi itu sudah tidak pedulikan factor lain, yaitu pindah peranan tempat yang membuat wilayah resapan air menyusut.

“Memang banjir ini diperhitungkan kuat karena ekosistem. Ayang telah kehilangan daya bantunya, hingga saat ada. Acuaca berlebihan, karena itu daya bantunya bangkrut dan menyebabkan musibah,” kata Direktur Eksekutif Walhi Nasional, Nur Hidayati seperti diambil dari Jawa Pos, Sabtu (16/1).

Ekosistem yang telah kehilangan daya bantu seperti dikatakan Nur Hidayati dapat kita saksikan diantaranya dari berkurangnya. Akomunitas rimba Kalimantan semenjak 10 tahun akhir. Ada beberapa laporan yang dapat dijelajahi. Dari dalam negeri, Instansi Penerbangan dan Antariksa. ANasional (LAPAN) melalui info resminya memberikan laporan semenjak 2010-2020 memang terjadi pindah peranan tempat yang berarti.

Selengkapnya diterangkan dalam 10 tahun akhir rimba primer. Adi Kalsel. Amenyusut sekitar 13 ribu hektar, rimba sekunder menyusut 116 ribu hektar, sawah menyusut 146 ribu hektar, dan semak belukar menyusut 47 ribu hektar. Sesaat di lain sisi, peluasan tempat perkebunan bertambah secara berarti yaitu sejumlah 219 ribu hektar.

Navigation

error: Content is protected !!